Saturday, September 6, 2014

Open Arms

salah satu judul lagu fenomenal Gary Go. I like the way British man creates strong sentences, wrapped it up with music. you should go listen.

dulu, aku selalu merasa teman itu susah bertambah. teman itu ya yang harus kita kenal sejak lama. kalau kalian tau, temanku yang itu itu saja. kadang bertambah, tapi tidak banyak.
mengingat aku merantau, aku harus menambah teman. dulu aku pendiam, tidak suka berkenalan dengan orang baru. bahkan seorang teman, vani, pertama kali berkenalan hanya dengan kutunjukkan bedge nama di kerudung sekolahku tanpa kuucapkan namanya.

sejak di bandung, cara pandangku berubah. aku yang sendiri, lebih suka diam, mulai mencoba iseng mencari topik dengan orang yang belum kukenal. meski sering gagal dan berakhir sama-sama diam. aku mencoba mengenal banyak, ikut komunitas taekwondo, ikut komunitas student orchestra. dua hal yang belum pernah kusentuh sebelumnya. teman angkatan kuliah, well, bisa dibilang hanya segelintir yang kukenal.

tahun kedua, aku pindah ke sebuah kota di dekat bandung, sumedang. disana, aku tinggal di asrama. mulanya aku kembali mengalami kesulitan bicara. aku tidak kenal seniorku. tidak kenal teman-teman sejurusanku. suatu hari, aku berpikir, berpikir keras, apa yang harus aku lakukan. memang, aku menganut paham bahwa bila sesuatu dikerjakan sendiri, pasti bisa selesai. tapi, aku tahu itu tak selamanya. di sumedang ini, aku mencoba melebarkan jangkauan tangan. mengenal senior yang bahkan baru kulihat wajahnya, berteman dengan kakak kantin, ibu penanggung jawab asrama, satpam, siapapun. paling sederhana, kucoba menyapa mereka terlebih dahulu.

kini aku sudah banyak berteman. orang yang tidak pernah kusangka bisa diajak ngobrol, ternyata tidak seseram itu. pasti ada topik yang bisa dibicarakan. awkward moment adalah hal lumrah. yang penting kita sudah mencoba. lain waktu aku percaya bisa lebih baik. ketiga temanku dari kota asal sudah lulus kuliah tahun ini. praktis, tinggal aku. tapi aku tidak lagi khawatir. banyak teman. banyak malaikat. aku belajar dari cerita hidup mereka. ada pendaki gunung, pemburu ilmu pengetahuan, business man, bankir, si alim, banyak musisi, junior yang giat bekerja, ada banyak lain lagi.

melebarkan jangkauan tangan. aku tahu teman memang harus diseleksi. tapi toh, kita juga bisa belajar dari mereka. aku diajarkan bagaimana bersyukur, tetap optimis, giat, selalu rendah hati, menyemangati orang lain, dan mendapat keluarga baru. memang tidak sedarah, tapi kami sama karena nasib. kami ada disini, berkenalan, dan itulah keluarga baru. ironi memang, katamu, kata mereka, tapi aku tak peduli. menurutku mereka tetap keluarga baruku. suatu hari, aku ingin melihat kita semua sukses karena saling menguatkan dan saling belajar satu sama lain.